http://www.junkonline.net/articles/1102-AFest–Manila-PHI-47-Mar

The finest in South East Asian indie congregates in Manila for A*Fest, with a promise of an awesome time over four top-notch days in March. How awesome? Think luminaries like I Am David Sparkle (Singapore), Free Love, Deepset (Malaysia), Everybody Loves Irene (Indonesia), Chochukmo (Hong Kong) and some of the Philippines’ finest such as The Dorques, The Camerawalls, Taken by Cars and Pedicab.

Here’s the preliminary details and lineup for the festival:

Wednesday, 4 March
Venue: Gweilo, Makati
The Camerawalls (Philippines)
Free Love (Malaysia)
Arigato Hato (Philippines)
Ciudad (Philippines)
Q (Japan)
The Sinister Left (HK)

Thursday, 5 March
Venue: Route 196, Quezon City
The Sinister Left (HK)
Free Love (Malaysia)
The Dorques (Philippines)
Chochukmo (HK)
Deepset (Malaysia)
Everybody Loves Irene (Indonesia)

Friday, 6 March
Venue: Saguijo, Makati
Deepset (Malaysia)
Chochukmo (HK)
Born to Hula (HK)
Pedicab (Philippines) * not confirmed
I Am David Sparkle (Singapore)
Velvette Vendetta (HK)
Everybody Loves Irene (Indonesia)

Saturday, March 7
Venue: Magnet Hi Street, Taguig
Everybody Loves Irene (Indonesia)
Chochukmo (HK)
Poubelle International (HK)
I Am David Sparkle (Singapore)
Born to Hula (HK)
Velvette Vendetta (HK)
Q (Japan)
Taken By Cars (Philippines) *not confirmed

For more info, visit www.myspace.com/kindassaultrecords
http://www.facebook.com/event.php?eid=51841987622

Sulit memang bila melepas tahun 2008 dengan tidak mengurai apa saja yang kami lakukan di tahun ini. Bersama band yang dirintis sejak tahun 1998 yang artinya sudah 10 tahun kebersamaan kami didalam keluarga Everybody Loves Irene tentunya bukan hal yang mudah dilupakan. Setelah di tahun 2007 kami bolak-balik Singapura dan Malaysia untuk memperkenalkan band kami dan album pertama “The Very First Thing You Must Learn About Flying is Gravity” hingga didaulat untuk jadi wakil Indonesia diajang band indie paling bergengsi di belahan Asia “BayBeats Festival 2007″, kami ingin sekali agar band kami juga mendapat sambutan yang sama di negeri sendiri. Maka sepulang dari BayBeats, kami bermimpi lagi untuk merilis album kedua dengan satu lagu berbahasa Indonesia.

Album kedua kami yang kami beri judul “On Second Thought, I Might Wanna Change Some Things” start recording pada Oktober 2007 di studio Soundmate Fatmawati dibawah panduan J. Vanco sebagai Music Director untuk album ini. Bukan proses yang singkat dan mudah terutama bagi kami yang mengandalkan kantong sendiri untuk produksi album kami. Belum lagi di awal 2008, vokalis kami Irene Yohanna harus menjalani operasi kista sehingga jadwal rekaman sempat mundur. Syukurlah, banyak teman-teman yang memberikan support dan membuat kami semangat menyelesaikan album ini dan siap diluncurkan ke publik bulan Agustus 2008. Ketika sampai saat-saat untuk merilis album ini, lagi-lagi kami mendapat bantuan terutama untuk distribusi peredaran CD dari label Demajors Independent Music Industry yang juga telah bekerjasama baik di album kami sebelumnya.

Permasalahan distribusi sudah ditangani lalu bagaimana dengan cara mengenalkan album ini ke khalayak luas? Mengingat kami hanya punya modal semangat dan kondisi keuangan kami sudah mepet banget untuk menggelar konfrensi pers selayaknya band-band yang merilis album terbarunya. Kami juga sadar banyaknya band baru bermunculan dan band lama yang merilis album baru dapat membuat album yang kami sudah siapkan untuk dinikmati khalayak luas hanya terongok di rak-rak toko CD tanpa sempat orang tau kalau kami merilis album. Kami tak ingin mimpi buruk itu terjadi, maka kami menyusun suatu rencana besar.

Thanks untuk penetrasi internet di Republik ini yang semakin meningkat di tahun 2008. Banyak orang semakin ’sadar-internet’ sehingga kesempatan untuk mengenalkan album makin terbuka lebar meskipun dengan dengan budget minim (bukan tanpa budget). Apalagi kami sudah punya pondasi lewat jaringan pertemanan MySpace yang di tahun sebelumnya majalah Hai menobatkan kami sebagai salah satu band Raja MySpace di Indonesia.

Banyak sekali social network site baru yang bermunculan di tahun 2008 kami putuskan untuk fokus di salah satunya yaitu Facebook. Mungkin kami lah pioneer band Indonesia yang memanfaatkan aplikasi Facebook untuk mengenalkan album baru.
Aplikasi sederhana yang memberikan akses untuk mendengarkan serta mengunduh single perdana kami yaitu Rindu yang juga single satu-satunya berbahasa Indonesia yang kami punya sampai saat ini. Aplikasi ini digunakan oleh 492 pengguna Facebook dan mendapat kritik postif dari blog marketing Think.Web (Band Indie Juga Bisa Online Marketing -http://www.think.web.id/brain/everybody-loves-irene/ ) dan juga media cetak harian terkemuka, Kompas.


Tak melulu mengandalkan internet, kami pun berusaha interaktif dengan penonton pertunjukkan kami. Caranya adalah dengan membagikan single Rindu ke penonton pertunjukkan kami lewat transfer bluetooth ke handphone atau lebih dikenal dengan istilah bluecasting. Kami pun memilih tanggal baik dan hari baik 8 Agustus 2008 untuk turun ke jalan mengenalkan lagu Rindu. Dengan mengusung tagline “Sharing is not Stealing, Love is Sharing” tak hanya Jakarta yang kami serbu, kami pun pergi ke Bandung untuk aksi ini. Media cetak Bisnis Indonesia pun mengangkat aksi kami dalam artikelnya:  

Kata orang, bulan puasa adalah bulan istirahat buat bermusik apalagi jika band tersebut bukan band religi atau tidak punya lagu religi. Buat kami itu justru mematikan kreatifitas, puasa harus lebih produktif mengeluarkan ide-ide segar. Di bulan September kami bekerja sama dengan penulis cerpen yang juga sutradara, Fajar Nugros dan penulis muda berbakat Alanda Kariza
untuk merilis cerpen klip, sebagai pengganti video klip karena kami tidak punya budget untuk bikin video klip. Cerpen klip berjudul “Bunuh Diri Massal 2008″ ini terbilang fenomenal, menggabungkan dua sisi industri kreatif musik dan cerpen, dan mendapat antusias yang tinggi yang terlihat dari statistik pengunjung website

 
Detikhot.com, hingga majalah Time Asia. Selain itu, radio-radio pun gencar memutarkan single Rindu kami dan sempat nangkring diantaranya di chart Madama Makassar, Ardan Bandung, hingga di penghujung tahun 2008 ini meraih posisi #1 di chart Geronimo Jogja. Tak banyak memang radio yang mau memutarkan lagu kami akan tetapi ini sebagai satu langkah besar kami untuk dikenal di dalam negeri. Seiring itu pula, video klip Rindu pun mengudara di MTV Indonesia dan stasiun-stasiun TV lokal.

Tahun 2008 penuh dengan warna, diantaranya tahun ini lagi-lagi single kami masuk kompilasi luar negeri. Albumnya bertajuk “Half Dreaming - Asian Shoegaze Compilation” dan single kami yang turut didalamnya adalah “Love is So Strange (demo version)”. Band Indonesia lainnya yang hadir dalam album ini adalah Elemental Gaze, Perfect Angel dan Share Springs. Tahun 2008 kami juga menjadi band Indonesia yang membuka rangkaian program televisi Channel V : AMP Around Asia. Sungguh suatu kehormatan bagi kami. Album kedua kami juga dapat dibeli di iTunes untuk pasaran luar negeri dan untuk pasaran lokal ringbacktone nya dapat
diperoleh di Telkomsel, Indosat dan XL.

Kami ingat satu kalimat, “98% yang kita hadapi adalah masalah, hanya 2% peluang yang ada” namun dengan semangat do-it-ourself, kami berhasil mengubah 98% masalah tadi menjadi peluang sehingga kami dapat dikenal lebih luas seperti sekarang ini. Masih ada cita-cita kami yang belum kesampaian; tur ke Eropa karena menurut teman-teman kami, musik kami lebih dikenal di benua sana. Kami juga tengah membangun keluarga kecil; Dimas & Fika, Adi & Dina, Widi & Vita. Mudah-mudahan tahun depan Aulia, Yudhi, Irene & Think Thing menyusul.

Terima kasih buat semua yang telah mengapresiasi kami, rekan-rekan media, fans dan keluarga besar Everybody Loves Irene. Tahun 2009 memberikan satu harapan baru yang lebih baik lagi bagi kita semua. Marry X-Mas and Happy New Year 2009 !

See you again ^_^ /

 

thanks to Ezra Saraswati aka Titing for artwork

thanks to our media partner:










thanks to our supporter & distributor:




Irene & FHM

Album sophomore dimitoskan sebagai titik kematangan tertinggi sebuah band. Everybody Loves Irene pun membuktikannya. Kalau debut mereka membawa Anda dalam perenungan gelap melalui komposisi berkord minor, disini mereka menyiasati kord mayor dengan baik dalam Pit dan Architect. Penggunaan vokal pria dan songwriting sarat referensi literatur dalam The Big Bang Prophecy membuktikan grup ini sebagai noir-band cerdas yang dimiliki Indonesia.

Best song: Solitude Dialogue. Magical choir yang membunuh!

FHM Magazine - November 2008

Next Page »